Transformasi digital kerap dianggap sebagai jalan pintas menuju efisiensi, namun keselarasaannya dengan agenda dekarbonisasi jarang diuji. Edisi Insight kali ini membedah paradoks tersebut: bagaimana sektor digital (pusat data, cloud, dan AI) justru absen dalam peta jalan kebijakan iklim Indonesia, kendati jejak karbon dan konsumsi energinya terus melonjak.
Berbasis analisis kebijakan nasional dan diskursus media periode 2023–2025, tim peneliti menemukan tantangan utama pada fragmentasi tata kelola dan narasi techno-optimistis yang mengabaikan dampak ekologis infrastruktur digital. Kondisi ini memisahkan regulasi digital dari target lingkungan, sehingga menciptakan risiko carbon lock-in baru. Kajian ini mendesak pergeseran paradigma: dari sekadar keberlanjutan simbolis menuju akuntabilitas material yang menempatkan infrastruktur digital sebagai bagian integral tata kelola iklim.