Pengurangan Risiko Bencana dari Kacamata Keilmuan Multiperspektif

Secara geografis, wilayah Indonesia berada di kawasan cincin api dunia yang membuatnya begitu rawan bencana, baik bencana gempa bumi, tsunami, hingga gunung meletus. Posisi Indonesia yang berada tepat di garis khatulistiwa menjadikan hanya ada dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Hal itu juga menciptakan kerawanan bencana, di musim hujan bencana banjir bisa menjadi ancaman, di musim kemarau bencana kekeringan dan kebakaran rentan terjadi.

Kondisi rawan bencana ini, menjadikan upaya untuk untuk mengurangi risiko bencana menjadi wacana dan praktek penting untuk didiskusikan serta dijalankan. Oleh karena itu pada hari Kamis, 25 Juli 2019, Statistic Assistance Center (SAC) Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya bekerjasama dengan Institute of Governance and Public Affairs, Magister Administrasi Publik UGM menyelenggarakan seminar nasional “Peranan Multiperspektif Keilmuan dalam Mengurangi Risiko Bencana”. Dalam sambutannya, Wahyudi Kumorotomo (Guru Besar Fisipol UGM & Pengelola MAP UGM) mengatakan bahwa seminar nasional yang diselenggarakan di Magiter Administrasi Publik UGM ini merupakan wujud kepedulian kampus terhadap upaya penanganan bencana di Indonesia. “Dengan melihat bencana dari berbagai kacamata keilmuan, maka kita akan lebih mampu menangkap ancaman ini dari berbagai sisi” ungkap Wahyudi Kumorotomo.

Dalam seminar nasional yang diselenggarakan SAC dan IGPA ini, menghadirkan empat keynote speaker yaitu Bevaola Kusumasari (Dosen Manajemen dan Kebijakan Publik UGM), Srisiuni Sugoto (Ketua Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia), Sari Mutia Timur (Direktur YAKKUM Emergency Unit) dan Setiasih (Dosen Psikologi Ubaya).

Bevaola Kusumasari mengatakan bahwa seiring dengan perkembangan teknologi, cara berkomunikasi ketika terjadi bencana pun telah bergeser. Jika sebelumnya masyarakat mengandalkan radio untuk mendapatkan informasi, sekarang masyarakat lebih memilih menggunakan HP dengan membuka portal media online atau media sosial mereka seperti twitter, facebook, atau instagram. “Dengan media sosial masyarakat tidak sekedar mencari informasi, namun juga turut berkomentar untuk menyikapi persoalan bencana itu” sebut Bevaola. Dengan menggunakan metode penelitian analisis terhadap big data dari tweet para pengguna twitter ketika merespon adanya bencana, Bevaola mengungkapkan bahwa dengan itu kita dapat memahami kecenderungan politik dari masyarakat. Dia mencontohkan studi yang dilakukan terhadap respon melestusnya Gunung Agung di Bali dengan bencana gempa bumi di Palu.

Sementara Setiasih, menekankan tentang pentingnya pengurangan risiko bencana dengan dimulai dari ranah keluarga. Menurutnya dengan pengetahuan terhadap bagaimana menyikapi bencana dan respon awal ketika bencana terjadi, akan menjadi pengetahuan penting agar risiko bencana dapat diminimalisasi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Srisiuni Sugoto, bahwa keluarga menjadi komponen penting untuk memberikan edukasi tentang bencana. Selain itu, Srisiuni juga melihat bahwa peran sekolah tidak kalah pentingnya untuk mensosialisasikan pengetahuan untuk siaga bencana. Dia mencontohkan sekolah siaga bencana yang dilakukan di Jepang, Selandia Baru, dan Algeria.

Sedangkan Sari Mutia Timur sebagai pembicara terakhir dalam diskusi itu, menyoroti tentang pentingnya untuk membuat kelompok rentan menjadi tangguh merespon bencana. Sari mencontohkan salah satunya adalah kelompok perempuan, yang menjadi kelompok paling rentan jika bencana terjadi. Sehingga, memberikan mereka pengetahuan siaga bencana dan bagaimana dapat keluar dari trauma bencana, adalah salah satu cara untuk meminimalisasi risiko bencana terhadak kelompok rentan.

Agenda seminar nasional yang diselenggarakan oleh SAC dan IGPA akhirnya ditutup dengan lebih dulu pemaparan hasil penelitian yang dilakukan oleh para peserta call of paper (/igpa).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Komentar (3)

  1. ardi anugrah said 6 tahun lalu

    Sangat membangun karakter budaya sadar bencana

  2. Ika Setiyaningsih 6 tahun lalu

    Mohon informasi alamat url hasil seminar yang sudah dicetak di prosiding. Terima kasih.

    • map 6 tahun lalu

      Mohon maaf untuk hasil seminar yang di cetak prosiding kami tidak mempublikasikan di website. Terimakasih atas kunjungannya, untuk info lebih lanjut silakan kunjungi IGPA MAP FISIPOL UGM.