Dies Natalis MAP UGM dan Adaptasi Daerah Mengawal Transformasi Digital

Yogyakarta – Dalam rangka Dies Natalis yang ke-29, Program Studi Magister Ilmu Administrasi Publik DMKP FISIPOL Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Arah Transformasi Digital Pemerintahan di Indonesia : Adaptasi dan Persoalannya”. Acara ini diselenggarakan pada Sabtu (5/11) di Ruang Seminar, Gedung Magister Ilmu Administrasi Publik DMKP FISIPOL UGM. Seminar Nasional ini mengundang empat pembicara ahli di bidang transformasi digital pemerintahan.

 

Para pembicara yang hadir pada Seminar Nasional antara lain Dr. Frans Pekey, M.Si (Pj. Walikota Jayapura dan alumnus MAP tahun 2002), Dr. H. Genius Umar, S.Sos., M.Si. (Walikota Pariaman dan alumnus MAP tahun 2001), Agung Kurniawan, S.IP., M.Si. (Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Kulon Progo dan alumnus MAP tahun 2005) serta Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, MPP yang merupakan dosen MAP dan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Pembicara pada Seminar Nasional bukan hanya hadir sebagai ahli, namun juga hadir sebagai alumni MAP yang sedang berkontribusi terhadap transformasi digital di Indonesia. 

 

Ada tiga isu utama yang menjadi pokok bahasan dalam Seminar Nasional ini yaitu: (1) arah kebijakan transformasi digital pemerintah pusat maupun daerah di Indonesia; (2) tantangan dan hambatan dalam upaya implementasi transformasi digital pemerintah di Indonesia; dan (3) langkah yang dapat dilakukan guna mendorong transformasi digital dan menciptakan hasil positif dari kebijakan transformasi digital. Seminar Nasional ini terbagi menjadi dua sesi yaitu sharing session dan QnA Session.

 

Pada sharing session mendiskusikan terkait transformasi digital pemerintahan di tiga daerah yaitu Kota Jayapura, Kota Pariaman dan Kabupaten Kulon Progo. Hal tersebut mencakup latar belakang tranfromasi digital, kebijakan percepatan digitalisasi di Indonesia dan keterlibatan perangkat daerah sebagai enabler transformasi digital. 

 

“Agar tidak tertinggal, pemerintah harus mengikuti dinamika perubahan. Semenjak 2017 Jayapura telah menginisiasi smart city. Kami sudah membuat regulasi percepatan dan perluasan digitalisasi daerah di Jayapura. Adaptasi ini harus didukung oleh pemimpin, SDM, infrastruktur, dan komitmen seluruh stakeholder,” ujar Frans Pekey.

 

Di samping itu, pembicara juga menjelaskan tantangan transformasi digital pemerintahan di daerah serta strategi pemerintah daerah dalam beradaptasi terhadap transformasi digital. 

 

“Sebelumnya kita memiliki gap pada seluruh dimensi smart city. Maka, strategi adaptasi kita adalah gotong royong untuk mengatasi anggaran yang kurang. Selain itu, strategi lain adalah kerjasama program antar dinas, dan pembiayaan program tidak harus dari sektor tertentu,” tandas Genius Umar.

 

Inovasi daerah terkait transformasi digital tak luput disinggung sebab mendukung ranah pelayanan publik maupun tata kelola pemerintahan. “smart city tidak harus berhubungan dengan elektronik, tapi berhubungan dengan kota cerdas. Kami memulai smart city pada 2008. Saat ini kami sudah memiliki perda SPBE, masterplan smart city, dan Penyelenggaraan Perkantoran Elektronik. Beberapa inovasi kami diantara adalah adalah perijinan Online Single Submission, Sicantik, SIMBG, Sistem Informasi Desa (SID) ada juga aplikasi suratku,” kata Agung Kurniawan.

 

Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, MPP mengingatkan transformasi tata kelola digital merujuk pada persoalan inovasi. “Masalah tata kelola digital yang muncul adalah bahwa inovasi sering dimaknai pembuatan aplikasi baru dan masih ada ego sektoral, serta literasi digital yang kurang. Sebagian besar masyarakat tidak menggunakan gadget untuk produktif karena mayoritas hanya untuk social media,” tutup Wahyudi Kumorotomo.

 

Keempat pemateri bersepakat bahwa persoalan transformasi digital bukan pada urusan berapa banyak aplikasi yang tersedia, namun apakah transformasi digital membantu masyarakat sejahtera.   

 

Selain sesi pemaparan dan diskusi, 4 Guru besar UGM yang juga dosen MAP memberikan tanggapan terhadap seminar dan para pemateri. Prof. Dr. Miftah Toha menyampaikan penghargaan kepada para alumni, “Terimakasih pembicara sudah mempraktekan ilmu kuliah yang dulu saya ajarkan. Jiwa pemerintah birokrasi adalah kekuasan, dan melayani publik. Saat ini, aspek tranformasi digital harus menghargai masyarakat, melayani manusia.” 

 

Sementara Prof. Dr. Sofyan Effendi menyatakan kegembiraannya sebab alumni MAP berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia. “Saya merasa bangga MAP menghasilkan pejabat yang kreatif, inovatif, dan mempu menjalankan pemrintahan yang adaptif dan dinamis.” Prof. Dr Achmad Djunaedi mengingatkan kembali akan makna transformasi digital, “Yang paling penting adalah adaptasi dan invoasi. Smart city itu bukan teknologi, tapi transformasinya”. Terakhir, Prof. Dr. Agus Pramusinto menyampaikan harapannya agar alumni MAP memiliki banyak inovasi dalam kontribusinya di daerah maupun nasional. 

 

Sesi seminar nasional ditutup dengan penyerahan cinderamata kepada pembicara dan foto bersama dan dilanjutkan ISHOMA. Kegiatan berlanjut pada siang hari dengan acara Alumni Talk untuk seluruh Alumni, Pengelola, Tendik dan Mahasiswa Magister Ilmu Administrasi Publik. Kegiatan ini merupakan bentuk sharing dan potensi kolaborasi alumni dengan Magister Ilmu Administrasi Publik. Selain itu, kegiatan Alumni Talk juga menjadi wadah komunikasi antara Forum Alumni dengan Forum Mahasiswa MAP (FORMAP). Kegiatan Alumni Talk diakhiri dengan nostalgia kampus yang bertajuk Campus Tour. Alumni bersama-sama melakukan napak tilas dari Bunderan (start) – Gerbang UGM – GSP – FISIPOL – Balairung – FEB – FIB – Fakultas Psikologi – Masjid Kampus – Fakultas Filsafat – Fakultas Hukum – Magister Manajemen – Magister Ekonomi Pembangunan – Sekolah Pascasarjana – Fakultas Teknik– FKKMK – FKG – MAP FISIPOL (finish).(MGF)

 

Pelatihan MAP